Rabu, 11 Mei 2016

BACA TULIS AL-QUR’AN



PERANAN GURU AL-QUR’AN DALAM MELAKSANAKAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR’AN SISWA
DI LUAR JAM PELAJARAN DI MTS.............
MEDAN ............




KATA PENGANTAR


Bismillahirrahmannirrahhim

            Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT karena atas Rahmat dan Karunia-Nya kita dapat menikmati kehidupan dan melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, semoga kita menjadi umat yang senantiasa bershalawat kepadanya. Amiin.
            Proposal ini disusun berdasarkan pembahasan yang telah dipelajari dan bertujuan untuk memperdalam pengetahuan tentang metode Penelitian kualitatif.
            Apabila terdapat kekurangan dalam penyusunan, penulis mohon maaf. Penulis harapkan kritik dan saran yang membangun bagi teman-teman yang membacanya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
            Demikianlah dan Penulis ucapkan terima kasih.


   Medan, Februari 2016
                                                        Hormat Saya,


                                                             Penulis

 


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.. i
DAFTAR ISI. ii
BAB I. 1
PENDAHULUAN.. 1
A.. Latar Belakang Masalah. 1
B.. Fokus Penelitian. 5
C.. Rumusan Masalah. 5
D.. Tujuan Penelitian. 6
E... Manfaat Penelitian. 6
BAB II. 8
KAJIAN PUSTAKA.. 8
A.. Kajian Tentang Peranan Guru Al-Qur’an. 8
1... Pengertian Peranan. 8
2... Pengertian Guru. 9
3... Pengertian Guru Al-Qur’an. 10
4... Tugas Guru Al-Qur’an. 12
5... Peranan Guru Al-Qur’an dalam Melaksanakan Baca Tulis Al-Qur’an. 13
B.. Kajian Tentang Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an. 17
1... Pengertian Kemampuan. 17
2... Pengertian Membaca Al-Qur’an. 18
2.1.    Metode Membaca Al-Qur’an. 21
3... Pengertian Menulis. 22
C.. Kajian Tentang Di Luar Jam Pelajaran (Ekstrakurikuler) 24
1... Pengertian Ekstrakurikuler 24
2... Tujuan Ekstrakurikuler 26
3... Jenis-jenis Kegiatan Ekstrakurikuler 32
D.. Kajian Penelitian Yang Relevan. 33
BAB III. 36
METODOLOGI PENELITIAN.. 36
A.. Tujuan Penelitian. 36
B.. Jenis Penelitian. 36
C.. Lokasi Penelitian. 37
1... Keadaan Fasilitas. 37
2... Keadaan Siswa. 38
3... Keadaan Guru. 40
D.. Sumber Data. 41
E... Prosedur Pengumpulan dan Perekaman Data. 42
1... Observasi 43
2... Wawancara/Interview.. 43
3... Dokumentasi 44
F... Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data. 44
G.. Analisis Data. 46
DAFTAR PUSTAKA.. 49






BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sejak manusia lahir ke dunia, telah dibekali oleh Allah SWT dengan adanya rasa ingin tahu. Adapun wujud dari keingintahuan ini adalah adanya akal. Dengan akal manusia berpikir sehingga dia mendapatkan ilmu pengetahuan yang semakin lama akan terus berkembang. Untuk memperdalam kemampuan akal itu, maka diperlukan pendidikan. Pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan kita, sebagaimana Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW dengan perintah Iqra' (bacalah) yang tertera dalam Al-Qur’an surat Al-'Alaq ayat 1-5.
 , الْأَكْرَمُ وَرَبُّكَ اقْرَأْ , عَلَقٍ مِنْ الْإِنسٰنَ خَلَقَ , خَلَقَ لَّذِىا رَبِّكَ بِاسْمِ اقْرَأْ
يَعْلَمْ لَمْ مَا الْإِنسٰنَ عَلَّمَ, بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الَّذِى
Artinya :
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan Kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al-‘Alaq ayat 1-5).[1]

Ayat tersebut merupakan perkenalan dan petunjuk dari Allah SWT. Bahwa Dialah pencipta segala sesuatu di jagat raya ini dan telah menciptakan manusia dari segumpal darah melalui proses yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Allah SWT menyatakan diri-Nya bahwa Dialah yang Maha Pemurah, sehingga bukan untuk dijauhi apalagi ditakuti, akan tetapi harus didekati sendiri. Dialah Maha pendidik yang bijaksana, mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan dan dengan menulis dan membaca.[2]
Dari makna ayat ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa, sebagai makhluk yang mampu menerima pendidikan atau makhluk yang bisa dididik, menuntut ilmu sangatlah penting bagi kelangsungan hidup kita di dunia. Dalam proses pendidikan upaya atau usaha guru sangatlah penting demi kelangsungan proses belajar mengajar yang baik.
Dalam pengertian upaya atau usaha mempunyai arti yang sama yaitu “ikhtiar untuk mencapai sesuatu yang hendak dicapai”.[3] Sedangkan pengertian guru itu sendiri adalah “pendidik professional, karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan, yang sebenarnya menjadi tanggung jawab para orang tua”.[4]
Keberhasilan suatu pendidikan banyak ditentukan oleh adanya hubungan kasih sayang antara guru dan anak didik. Hubungan ini membuat anak didik merasa tentram sehingga tidak merasa takut pada gurunya atau lari dari ilmunya. Guru adalah publik figur yang akan dijadikan panutan para anak didiknya. Oleh sebab itu, perilaku guru baik bersifat personal maupun sosial, senantiasa dijadikan parameter sebagai sosok guru. Maka sebagai seorang guru harus memiliki akhlak yang luhur yang nantinya bisa dijadikan suri teladan bagi anak didiknya.
Dalam usaha peningkatan kemampuan baca tulis Al-Qur'an pada anak didik juga tidak terlepas dari upaya guru untuk membantu siswa membaca dan menulis Al-Qur’an agar dapat memahami isi Al-Qur'an. Terlebih anak didik yang dimaksud adalah anak-anak yang berasal dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang memasuki ke jenjang Madrasah Tsanawiyah, yang notabene masih banyak sekali yang belum mampu dan memerlukan bimbingan yang ekstra dari guru Al-Qur’an untuk meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an mereka. Karena anak didik yang bersekolah di Madrasah Tsanawiyah haruslah mampu dan wajib untuk dapat menulis dan membaca Al-Qur’an, serta kemampuan membaca dan menulis termasuk keterampilan yang harus dipelajari dengan sengaja. Tidak samahalnya dengan belajar berbicara. Kemampuan mendengarkan dan berbicara termasuk kemampuan yang diperoleh dengan sewajarnya, maksudnya anak mempelajari fungsi itu dengan sendirinya.[5]
Pembelajaran Al-Qur'an sebenarnya tidak hanya menjadi tugas guru di sekolah, tetapi menjadi tugas kita sebagai orang mukmin. Orang mukmin yang percaya dengan Kitabullah yaitu Al-Qur'an yang menjadi pedoman kita semua. Agar para anak didik khususnya disini yaitu siswa Madrasash Tsanawiyah dapat memahami isi Al-Qur'an, maka salah satu caranya adalah dengan mampu membacanya.
Selain menyeru mendidik anak membaca Al-Qur'an, Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya mendidik anak menulis huruf-huruf Al-Qur'an. Anak diharapkan memiliki kemampuan menulis (kitabah) aksara Al-Qur'an dengan baik dan benar dengan cara imla' (dikte) atau setidaknya dengan cara menyalin (naskh) dari mushaf. Ketepatan membaca dan menulis tersebut diistilahkan dengan tartil. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al-Muzammil ayat 4:
وَرَتِّلِ الْقُرْﺀَﺍنَ تَرْتِيْلاَ
Artinya :
“ . . . Dan bacalah Al Qur’an itu dengan (bacaan) yang tartil”. (QS. Al-Muzammil ayat 21).[6]

Sebagai umat muslim yang sejati, maka tentulah mesti mengerti tentang kitabullah sebagai pedoman hidup di dunia, baik membacanya, serta memahami yang terkandung di dalamnya. Hal ini merupakan kelanjutan misi pendidikan di madrasah yang lebih mengutamakan pendidikan agama Islam dari pada bidang studi umum. Baik dari bidang Aqidah dan Akhlak, Fiqih, SKI, Al-Qur’an dan lain-lain. Setiap siswa, yang menimba ilmu di Madrasah Tsanawiyah sewajarnya dapat mengerti cara membaca al-Qur’an dengan baik. Namun kenyataannya, masih banyak anak yang belajar di Madrasah Tsanawiyah yang belum bisa membaca al-Qura’an. Hal ini merupakan persmasalahan yang tidak sewajarnya terjadi di lingkungan pendidikan madarasah.
Berdasarkan pengamatan pra penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa kemampuan baca tulis Al Qur’an siswa di MTS............. Medan ............ sebagian masih kurang baik kemampuannya dan sebagian lagi cukup baik kemampuannya dalam baca tulis Al-Qur’an. Maka peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian di MTS............. Medan ............ terkait dengan peranan guru Al-Qur’an dalam melaksanakan kemampuan baca tulis Al-Qur'an siswanya. Maka judul yang diajukan dalam skripsi ini yaitu ''PERANAN GURU AL-QUR’AN DALAM MELAKSANAKAN KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR'AN SISWA DI LUAR JAM PELAJARAN DI MTS............. MEDAN ............''.

B.     Fokus Penelitian

Menghindari tidak terjadinya kesalah pahaman dalam penelitian ini, maka penulis memberikan batasan dalam masalah yang akan diteliti yaitu “Peranan Guru Al-Qur’an dalam Melaksanakan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa di Luar Jam Pelajaran Di MTS............. Medan ............” dalam hal ini penulis akan berusaha mencari tahu apa dan bagaimana pelaksanaan yang diterapkan oleh guru Al-Qur’an di MTS............. untuk melaksanakan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran. Walaupun  pembelajaran Al-Qur'an sebenarnya tidak hanya menjadi tugas guru di sekolah, tetapi menjadi tugas kita sebagai orang mukmin, namun penulis memfokuskan peranan guru Al-Qur’an secara khusus dalam membimbing dan melatih dalam melaksanakan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran.

C.    Rumusan Masalah

Berdasarkan fokus penelitian tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.        Bagaimana guru Al-Qur’an dalam membimbing dan melatih pelaksanakan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran di MTS............. Medan ............?
2.        Bagaimana keberhasilan yang dicapai guru Al-Qur’an dalam membimbing dan melatih pelaksanaan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran di MTS............. Medan ............?  
3.        Apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan guru Al-Qur’an dalam melaksanakan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran di MTS............. Medan ............?

D.    Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini mempunyai tujuan:
1.      Untuk mengetahui guru Al-Qur’an dalam membimbing dan melatih pelaksanakan kemampuan baca tulis  Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran di MTS............. Medan .............
2.      Untruk mengetahui keberhasilan yang dicapai guru Al-Qur’an dalam membimbing dan melatih pelaksanaan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran di MTS............. Medan .............
3.      Untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan guru Al-Qur’an dalam melaksanakan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran di MTS............. Medan .............

E.     Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna, baik secara teoritik, akademis maupun secara praktis.
a.         Secara Akademis
1)        Untuk memberikan sumbangan pemikiran tentang peranan guru Al-Qur’an dalam melaksanakan kemapuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran di Al-Washliyah medan .............
2)        Untuk menambah khazanah keilmuan dan wawasan bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.
b.        Secara Praktis  
1)        Memberikan informasi pada madrasah, terutama pada pembaca tentang peranan Guru Al-Qur’an dalam melaksanakan kemapuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran.
2)        Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menambah perbendaharaan  kepustakaan bagi Universitas Negeri Islam Sumatera Utara, khususnya mengenai pelaksanaan penelitian kualitatif.
c.       Secara pragmatis, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi para mahasiswa, khususnya mahasiswa PAI dan mahasiswa pada umumnya yang ingin mengadakan penelitian mengenai pelaksanaan penelitian kualitatif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 





BAB II

 KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian Tentang Peranan Guru Al-Qur’an

1.         Pengertian Peranan

Secara etimologis “peranan” berasal dari atau kata dasar “peran” yang ditambah dengan akhiran-an, sehinggah berarti hal atau peristiwa. Peranan adalah “sesuatu yang menjadi bagian atau yang memegang pimpinan yang terutama (dalam terjadinya sesuatu hal atau peristiwa)”.[7] Sedangkan dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia peranan berarti “bagian dari tugas utama yang harus dilakukan”.[8] Berdasarkan pengertian tersebut, yang dimaksud dengan peranan di sini adalah tugas utama guru Al-Qur’an membimbing dan melatih dalam melaksanakan kemampuan baca  tulis Al-Qur’an siswa.
Maka dengan itu seorang guru Al-Qur’an merupakan bagian dari lingkungan yang sangat penting peranannya dalam membantu anak mengembangkan kemampuan dan potensinya agar bermanfaat bagi kehidupannya, baik secara perorangan maupun sebagai anggota masyarakat, serta untuk persiapan kehidupannya yang akan datang, tugas utama ini merupakan kewajiban seorang guru yang harus dilaksanakannya dalam membantu anak didiknya.
Menurut Dra. Rosdiana A. Bakar, M.A mengatakan bahwa “Peranan adalah proses aktif dan inisiatif yang muncul dari suatu pihak, yang dapat terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi oleh tiga faktor pendukungnya, yaitu: adanya kemauan, kemampuan dan kesempatan”.[9]
Adapun maksud pengertian peranan di atas adalah suatu proses aktif dan berinisiatif dalam terjadinya proses pengembangan pendidikan pada anak didiknya. Seorang guru yang memiliki kemauan, kemampuan dan kesempatan dalam mengajarkan anak didiknya, maka guru tersebut akan mendapatkan hasil dari apa yang telah ia ajarkan kepada anak didiknya dengan baik, dan keinginan guru untuk membuat anak didiknya mendapatkan hasil belajar yang baik akan dapat terwujudkan.

2.         Pengertian Guru

Menurut Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, MA bahwa:
Guru adalah orang yang memberikan ilmu kepada peserta didik, serta membimbing jiwa mereka sekaligus pula mengarahkan tingkah laku mereka kepada yang baik. Tugas mereka ada tiga hal. Pertama, mentransfer ilmu, memberikan ilmu kepada peserta didiknya dalam bentuk proses pengajaran. Kedua, menanamkan nilai-nilai yang baik, dalam hal ini menanamkan value (nilai). Ketiga, melatih mereka untuk memiliki keterampilan dan amal yang baik. Guru ini dapat berfungsi dan melaksanakan tugasnya pada pendidikan formal dan nonformal.[10]

Maka dengan itu seorang guru bukanlah semata mata hanya sebagai pengajar” yang melakukan “transfer of knowledge” tetapi juga harus melakukan “transfer of values” dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam mengajar. Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan kepribadian sebagai pendidik terkadang lebih berat dari pada profesi lainnya. Seorang guru harus dapat dipercayai untuk mengenal nilai-nilai yang dianut berkembang dalam masyarakat, dan seorang guru harus dapat mengubah peserta didik ke arah yang lebih baik, dan mengarahkan kepada tujuan dari hasil yang akan dicapai.
Buchori mengatakan bahwa: “guru adalah merupakan kunci keberhasilan sebuah lembaga pendidikan, baik atau buruknya perilaku atau cara mengajar guru akan sangat mempengaruhi citra dalam pendidikan”.[11]
Dari pengertian di atas maka dapat dikatakan bahwa guru adalah seseorang yang disebut sebagai penasehat, bahkan sebagai orangtua walaupun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasihat dan tidak berharap dapat menasehati orang. Menjadi seorang guru berarti mampu memberi pengajaran dan mampu menciptakan orang menjadi lebih baik dan dapat dipercaya oleh masyarakat. Oleh sebab itu sumber daya guru harus selalu dikembangkan baik melalui tenaga pendidik lebih meningkat dan lebih profesional.

3.         Pengertian Guru Al-Qur’an

Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) ialah “Pendidik yang melakukan kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan secara sadar terhadap peserta didiknya  untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam”. Di dalam GBPP mata pelajaran pendidikan agama Islam kurikulum 1999, tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu: “agar siswa memahami, menghayati, meyakini, dan mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman, bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia”.[12]
Sedangkan menurut Abdul Majid dan Dian Andayani yang mengutip dari kurikulum PAI 2002 menegaskan bahwa:
Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengalaman serta pengamalan peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang harus berkembang dalam hal keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.[13]

Maka dengan pengertian Guru Pendiidkan Agama Islam (GPAI) di atas dapat disamakan dengan seorang guru Al-Qur’an. Jadi, Seorang guru Al-Qur’an haruslah mampu dalam melakukan kegiatan bimbingan dan pengajaran kepada anak didiknya dalam membantu membaca dan menulis Al-Qur’an agar ia dapat memahami isi kandungan Al-Qur’an, sehingga dapat membentukan akhlak yang mulia, persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, membentuk manusia yang baik dan benar yang berbakti kepada Allah SWT, membangun struktur kehidupannya di dunia ini sesuai hukum (syariah) dan menjalani kehidupan tersebut untuk mengabdi sesuai dengan keimanannya, sehingga dapat menciptakan anak didik yang baik.

4.         Tugas Guru Al-Qur’an

Menurut Dr. H. Haidar Putra Daulay mengatakan bahwa: “Tugas Guru dalam Konsep Pendidikan Agama Islam yaitu menyampaikan ilmu (transfer of knowledge), menanamkan nilai-nilai (transfer of values) dan melatihkan keterampilan hidup (transfer of skill).[14]
Jadi, pendapat di atas dapat kita simpulkan bahwa seorang guru Al-Qur’an bertugas mengisi otak peserta didik dalam pemahaman membaca dan menulis Al-Qur’an, seorang guru tidak boleh menyembunyikan ilmunya agar tidak diketahui orang lain. Guru Al-Qur’an wajib menyampaikan pemahamannya kepada anak didiknya agar anak didik tersebut dapat memahami isi Al-Qur’an, karena menyampaikan ilmu itu adalah kewajiban orang yang berpengetahuan. Tugas guru juga harus memperkenalkan mana nilai yang baik, serta menerapkannya dalam kehidupan peserta didik lewat praktik pengamalan yang dilatihkan kepada mereka. Guru juga bertugas untuk melatih kemahiran hidup. Mengisi tangan peserta didik dengan satu atau beberapa keterampilan yang dapat digunakannya sebagai bekal hidupnya.
Muhaimin mengatakan bahwa:
Tugas Guru Pendidikan Agama Islam adalah berusaha secara sadar untuk membimbing, mengajar dan/atau melatih siswa agar dapat:
1)        Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga.
2)        Menangkal dan mencegah pengaruh negatif dari kepercayaan, paham atau budaya lain yang membahayakan dan menghambat perkembangan keyakinan siswa.
3)        Menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat;
4)        Mampu memahami, mengilmui pengetahuan agama Islam secara menyeluruh sesuai dengan daya serap siswa dan keterbatasan waktu yang tersedia.[15]

Seorang guru Al-Qur’an haruslah mampu memimbing dan melatih dalam baca tulis Al-Qur’an siswa, dengan di ajarkan membaca dan menulis Al-qur’an sampai anak didik dapat memahami apa dari isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, maka anak didik dapat mengaplikasikan di kehidupannya dari apa yang telah ia pahami dari makna isi kandungan ayat Al-Qur’an tersebut. Maka dengan itu seorang Guru Al-Qur’an bukan hanya menjadi pendidik di depan kelas saja, tetapi senantiasa ia untuk membimbing, mengajar dan melatih anak didiknya agar menjadi orang bersusila yang cakap, berguna bagi agama, nusa dan bangsa di masa yang akan datang.

5.         Peranan Guru Al-Qur’an dalam Melaksanakan Baca Tulis Al-Qur’an

Dalam pelaksanaan pengajaran, seorang guru memegang peranan yang sangat penting, berhasil tidaknya suatu pengajaran tergantung pada peran seorang guru. Peran guru dalam proses belajar-mengajar meliputi:
a)        Guru sebagai demonstrator.
b)        Guru sebagai pengelola kelas.
c)        Guru sebagai mediator.
d)       Guru sebagai evaluator.

Beberapa karakteristik yang harus dimiliki oleh guru Al-Qur’an diantaranya:
1.        Seorang guru Al-Qur’an hendaknya berlaku ikhlas dalam menjalankan misi mulia ini, sebagaimana guru hanya mengharapkan limpahan berkah dari Allah SWT.
2.        Seorang guru Al-Qur’an seharusnya mempunyai sifat wara’, bertaqwa dan takut kepada Allah SWT serta bersikap tawadhu’ pada saat mengahadapi siswa.
3.        Seorang guru Al-Qur’an hendaknya bertingkah laku dengan akhlak yang terpuji dan berbudi pekerti mulia, seperti: lapang dada, baik, murah hati, dan penderma, memiliki kesungguhan, ikhlas dan tawadhu’.
4.        Seorang guru Al-Qur’an hendaknya membersihkan diri dari keuntungan-keuntungan duniawi, sehingga dalam mengajar Al-Qur’an kepada siswa dalam membimbing mereka membaca dan menulis Al-Qur’an, seorang guru hanya bermaksud mendapatkan ridho Allah SWT dan mengharapkan pahala dari-Nya.
5.        Seorang guru Al-Qur’an hendaknya mengetahui hukum-hukum bacaan Al-Qur’an dan menghafal kitab suci tersebut secara benar.
6.        Seorang guru Al-Qur’an hendaknya memberikan nasehat kepada siswa yang diajarinya dan membantu mereka membaca dan menulis Al-Qur’an dengan penuh kelembutan dan kesabaran.
7.        Seorang guru Al-Qur’an hendaknya mengingatkan siswa tentang keutamaan Al-Qur’an yang mendorong mereka untuk menghafal, mempelajari, dan memahami.
8.        Seorang guru Al-Qur’an hendaknya memperhatikan siswa dan menyayangi mereka sebagaimana menyayangi anak-anaknya sendiri.[16]
Peran guru Al-Qur’an harus berupaya membuat anak didiknya paham. Memberi bimbingan, pelatihan dan pengajaran kepada masing-masing anak sesuai dengan kemampuannya. Ia tidak boleh mengajar mereka lebih banyak atau lebih lama, sementara mereka tidak menyanggupinya. Sebaiknya, pengajar tidak boleh mengajar dengan singkat untuk anak didik yang memerlukan tuntutan pengajaran yang lebih banyak.
Disamping itu juga seorang guru Al-Qur’an harus mengupayakan ruang belajar yang luas, agar muruid-murid merasa nyaman belajar. Guru Al-Qur’an juga harus memiliki sifat berkepribadian matang dan terkontrol, sehingga akan muncul rasa antusias peserta didik dalam pembelajaran.
Dalam proses mengajar merupakan fenomena yang kompleks, guru Al-Qur’an mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Oleh karena itu dalam mencapai suatu cita-cita dan tujuan perlulah ada seorang yang mampu mengarahkan agar tujuan tersebut dapat tercapai, hal itulah yang menjadi peran seorang guru. Pengaruh dari seorang pendidik atau pengajar sangat besar sekali, dimana tanpa ada seorang yang mengarahkan maka alhasil seseorang itu tidak akan mendapat tujuannya yang ingin dicapai. Seorang guru tampak besar pengaruhnya terlihat sangat jelas ketika dalam pross belajar mengajar.


Sardiman mengatakan bahwa:
Sehubungan dengan fungsinya sebagai “pengajar” dan “pendidik” dan juga “pembimbing” maka diperlukan adanya berbagai peranan pada diri guru. Peranan guru senantiasa menggambarkan tingkah laku yang diharapkan dalam berinteraksi terutama dengan siswa, sesama guru, maupun dengan staf lainnya. Dari berbagai kegiatan interaksi belajar mengajar, dapat dipandang dari sentral bagi perannya. Sebab disadari atau tidak bahwa sebagian dari waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk menggarap proses belajar mengajar dan berinteraksi dengan siswanya”.[17]

Peran atau pengaruh seorang guru sangatlah besar dalam pendidikan, terutama di dalam proses belajar mengajar. Seperti yang dikatakan di atas bahwa waktu guru lebih banyak menghabiskan perannya pada saat belajar. Jadi tidak dapat dipungkiri lagi, jika guru dituntut untuk membentuk kepribadian yang berkarakter dan bermoral yang baik.
Peranan guru merupakan komunikator, sahabat yang mampu memberi nasihat-nasihat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan dan pengembangan sikap, tingkah laku dan serta nilai-nilai orang yang menguasai bahan yang diajarkan. Guru disekolah sebagai pegawai dalam hubungan kedinasan, sebagai bawahan, terhadap atasannya, sebagai kolega dalam dengan teman sejawat, sebagai mediator dalam hubungannya dengan anak didik, sebagai pengatur disiplin, evalator dan pengganti orang tua.
Sebagai guru Al-Qur’an mempunyai tugas dan peranan yang mampu menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencanakan dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa.

B.     Kajian Tentang Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an

1.         Pengertian Kemampuan

Kemampuan berasal dari kata “mampu” yang mendapat awalan “ke” dan akhiran “an”, sehingga menjadi kata benda abstrak “kemampuan” yang mempunyai arti kesanggupan atau kecakapan.[18] Adapun yang dimaksud dengan “kemampuan” dalam tulisan ini adalah kesanggupan atau kecakapan yang berkaitan dengan keterampilan membaca Al-Qur’an dengan baik, lancar dan benar.
Dalam proses pembelajaran diperlukan adanya kemampuan. Kemampuan awal siswa adalah prasarat yang diperlukan untuk siswa mengikuti proses belajar mengajar yang akan diikuti selanjutnya. Kemampuan awal siswa dapat dijadikan titik tolak untuk membekali siswa agar dapat mengembangkan kemampuan baru.
Menurut Chaptin “ability” dari Robbins dkk menyatakan (kemampuan, kecakapan, ketangkasan, bakat, kesanggupan) merupakan tenaga (daya kekuatan) untuk melakukan suatu perbuatan. Sejalan dengan itu, kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan.[19]
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan (ability) adalah kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam menguasai suatu keahlian yang merupakan bawaan sejak lahir, hasil latihan, atau praktek dan digunakan untuk mengerjakan sesuatu yang ditunjukan melalui tindakan.
Lebih lanjut Robbins, menyatakan bahwa:

Kemampuan terdiri dari dua faktor, yaitu:
a.    Kemampuan intelektual
Merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam melakukan aktivitas secara mental.
b.    Kemampuan fisik
Merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam melakukan aktivitas berdasarkan stamina, kekuatan, dan karakter fisik.[20]

Berdasarkan kedua faktor di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan dipengaruhi oleh kedua faktor yaitu kemampuan intelektual dan juga kemampuan fisik. Begitu juga dengan kemampuan menulis dan membaca bermula dari kemampuan fisik dan intelektual.

2.         Pengertian Membaca Al-Qur’an

Secara etimologi kata “baca” adalah bentuk kata benda dari kata kerja “membaca”. Menurut bahasa Arab dalam kamus Al-Munawwir adalah قرأ۔ يقرأ yang berarti membaca.[21]
Khusus dalam membaca Al-Qur’an harus dibarengi dengan kemampuan mengetahui tajwid dan mengaplikasikannya dalam membaca teks. Tentang hal ini bisa dipahami dari perintah membaca Al-Qur’an secara tartil.
Membaca Al-Qur’an juga tidak terlepas hubungannya dengan masalah tempo ini. Ada empat tingkatan (tempo) yang telah disepakati oleh ahli tajwid, yaitu:

1.      At-Tartil
Yaitu: membaca dengan pelan dan tenang, mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya, baik asli maupun baru datang hukum-hukumnya serta memperhatikan makna ayat.
2.      At-Hadr
Yaitu: membaca dengan cepat tetapi masih menjaga hukum-hukumnya.
3.      At-Tadwir
Yaitu: bacaan sedang tidak terlalu cepat juga tidak terlalu pelan, tetapi pertengahan antara keduanya.
4.      At-Tahqiq
Yaitu: membaca seperti halnya tartil tetapi lebih tenang dan perlahan-lahan. Tempo ini hanya boleh dipakai untuk belajar latihan dan mengajar dan tidak  boleh dipakai pada waktu sholat atau menjadi imam.[22]
Materi Al-Qur’an diberikan bukan untuk mengajarkan bagaimana cara membaca dan menulis Al-Qur’an saja melainkan siswa juga dapat mengetahui arti dan memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.
Tata cara membaca Al-Qur’an dikalangan Ulama’ Quro’ dan Ahlul juga ada empat cara yang berlaku yaitu: Tahqiq, Tartil, Tadwir, dan Hadr.[23]
Dalam proses pembelajaran pada lembaga  formal dan pada tingkat pendidikan lanjut, tahapan-tahapan itu bisa saja dilakukan secara simultan. Artinya kemampuan membaca dan menulis sebagai kemampuan pokok dalam pembelajaran suatu bahasa bisa dilakukan secara integral di mana kemampuan satu dengan yang lainnya dapat saling mendukung.
Secara umum, bagi pemula harus bisa membaca dengan lancar (menguasai huru hijaiyah dan tanda baca). Dengan rincian dapat membaca dan memahami fungsi tanda baca, pertemuan kedua untuk melatih dan melancarkan huruf hijaiyah dan fungsi tanda baca yang sudah disediakan.[24]
Metode merupakan jalan atau cara yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan, karena metode sangatlah penting dalam pendidikan. Dalam kenyataannya materi pendidikan tidaklah mungkin terlaksana secara efektif dan efesien, jika seorang guru tidak menggunakan metode yang dapat membuat seorang siswa memahami atau mengerti apa yang disampaikan oleh seorang gurunya.
Seorang guru haruslah memiliki metode yang efektif yang bisa memotivasi anak-anak untuk mencintai, membaca dan menjaga Al-Qur’an, sehingga dari kalangan pendidikan tidak lagi mengeluh tentang anak-anak atau siswa yang tidak menyukai atau meremehkan kajian Al-Qur’an.[25]
Sudah saatnya seorang guru memperkuat perlunya inovasi dalam pembelajaran Al-Qur’an peserta didik. Hal ini tentu akan sangat membantu seorang guru dalam proses pembelajaran Al-Qur’an bersama anak didik. Sudah saatnya para orang tua dan pendidik untuk memanfaatkan temuan-temuan ilmiah bagiperoses pembelajaran Al-Qur’an bagi anak-anak. Tujuannya untuk mengatasi Al-Qur’an agar siswa bebas dari buta huruf membaca Al-Qur’an.[26]
Begitu pula dengan pengajaran yang juga memerlukan metode yang mempermudah dalam menyampaikan materi, agar siswa dapat memahami dan mengerti.

2.1.    Metode Membaca Al-Qur’an

Prinsip pengajaran Al-Qur'an pada dasarnya bisa dilakukan dengan bermacam-macam metode. Diantara metode-metode itu ialah sebagai berikut: pertama, guru membaca terlebih dahulu, kemudian disusul anak atau murid. Dengan metode ini, guru dapat menerapkan cara membaca huruf dengan benar melalui lidahnya. Sedangkan anak akan dapat melihat dan menyaksikan langsung praktik keluarnya huruf dari lidah guru untuk ditirukannya, yang disebut dengan Musyafahah 'adu lidah'. metode ini diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada kalangan sahabat.
Kedua, murid membaca di depan guru, sedangakn guru menyimaknya. Metode ini dikenal dengan metode sorogan atau 'ardul Qiro'ah' atau setoran bacaan. Metode ini dipraktikkan oleh Rasulullah SAW bersama malaikat Jibril pada tes bacaan Al-Qur'an di bulan Ramadhan.
Ketiga, guru mengulang-ulang bacaan, sedang anak atau murid menirukannya kata per kata dan kalimat per kalimat juga secara berulang-ulang hingga terampil dan benar.
Dari ketiga metode ini, metode yang banyak diterapkan di kalangan anak-anak pada masa kini ialah metode kedua, karena dalam metode ini terdapat sisi positif yaitu aktifnya murid CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Untuk tahap awal, proses pengenalan kepada anak-anak pemula, metode yang tepat ialah metode pertama sehingga anak atau murid telah mampu mengekspresikan bacaan huruf huruf hijaiyah secara tepat dan benar. Sedangkan metode ketiga cocok untuk mengajar anak yang menghafal.

3.         Pengertian Menulis

Menulis dapat didefenisiskan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat medianya.[27] Menulis juga merupakan menemukan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu.[28]
Sejalan dengan pengertian di atas menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Dengan demikian, menulis merupakan serangkaian kegiatan untuk mengemukakan suatu idea atau gagasan dalam bentuk lambang bahasa tulis agar dapat dibaca oleh orang lain.[29]
Dalam kegiatan menulis, diperlukan adanya kompleksitas kegiatan untuk menyusun karangan secara baik yang meliputi:
1.      Keterampilan gramatikal.
2.      Penuangan isi.
3.      Keterampilan etistika.
4.      Keterampilan mekanis.
5.      Keterampilan memutuskan.[30]
Berdasarkan uraian diatas, dapat didefenisikan menulis adalah serangkaian proses kegiatan yang kompleks yang memerlukan tahapan-tahapan, dan menuangkannya kedalam bentuk tulisan sehingga pembaca dapat memahami isi dari gagasan yang disampaikan. Dengan kata lain bahwa menulis merupakan serangkaian kegiatan yang akan melahirkan pikiran dan perasaan melalaui tulisan untuk disampaikaan kepada pembaca.
Adapun unsur-unsur menulis dan manfaat menulis dapat dijelaskan di bawah ini:
1.      Unsur-unsur menulis
Dalam membuat sebuah tulisan, diperlukan beberapan unsur yang harus diperhatikan yaitu terdiri dari:
a.       Gagasan
Topik yang berupa pendapat, pengalaman, atau pengetahuan seseorang tergantung masa lalu atau pengetahuan yang dimilikinya.

b.      Tuturan
Merupakan pengungkapan gagasan yang dapat dipahami pembaca. Ada bermacam tuturan antara lain narasi, deskripsi dan eksposisi, argumentasi dan persuasi.
c.       Tatanan
Tatanan merupakan aturan yang harus diindahkan ketika akan menuangkan gagasan. Berarti ketika menulis tidak sekedar menulis harus mengindahkan aturan dalam menulis.
4.      Wahana
Wahana juga sering disebut dengan alat. Wahan merupakan kosakata. Bagi penulis pemula, wahan sering menjadi masalah. Mereka menggunakan kosakata yang masih sederhana dan terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut, seorang penulis harus memperkaya kosakata yang belum diketahui artinya.[31]

C.    Kajian Tentang Di Luar Jam Pelajaran (Ekstrakurikuler)

1.         Pengertian Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar jam pelajaran. Sebagai upaya untuk membentuk manusia seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, kegiatan ekstrakurikuler dapat berhubungan dengan kegiatan kurikuler seperti untuk memperluas pengetahuan atau dapat juga kegiatan yang diarahkan untuk mengembangkan minat dan bakat siswa, yang pelaksanaannya tidak terbatas hanya di lingkungan sekolah, akan tetapi juga dapat di luar sekolah.[32]
Dalam konteks pembinaan manusia  seutuhnya, kegiatan ekstrakurikuler memiliki perannya yang sangat penting karena pencapaian tujuan tersebut tidak mungkin dapat dicapai hanya mengandalkan kegiatan kurikuler yang waktu pelaksanaannya terbatas. Pencapaian tujuan manusia seutuhnya perlu usaha yang terus menerus melalui berbagai program kegiatan ekstrakurikuler yang dapat mendukung program kurikuler.
Pada surat Keputusan Mendikbud Nomor 060/U/1993 dan Nomor 080/1/1993, dijelaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilaksanakan di luar  jam pelajaran yang tercantum dalam susunan program sesuai dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler dapat berbentuk kegiatan pengayaan dan kegiatan perbaikan yang berkaitan dengan program kurikuler.
Batasan di atas menunjukkan bahwa program ekstrakurikuler diarahkan untuk mendukung keberhasilan program kurikuler yang lebih menitik beratkan pada pencapaian program akademik melalui upaya perbaikan dan pengayaan. Dari rumusan tersebut ada beberapa persamaan konsep walaupun dirumuskan dalam kalimat yang berbeda yaitu pertama, ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang diatur di luar jam pelajaran, dan kedua, kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk menunjang keberhasilan program kurikuler.
Kegiatan ekstrakurikuler di rancang di luar jam pelajaran atau memanfaatkan waktu adalah kurikulum yang mengharapkan agar lulusan lembaga pendidikan dapat menguasai kompetensi yang multidimensi sesuai dengan perubahan dan tantangan zaman, seiring dengan menggelindingnya arus globalisasi. Apa yang di harapkan oleh kurikulum ini tidak mungkin dapat di capai dengan jumlah jam setiap mata pelajaran. Untuk melengkapinya maka program ekstrakurikuler harus di rancang dan dilaksanakan di luar jam sekolah. Misalnya, setelah pukul 13.00 WIB untuk sekolah yang masuk pagi atau pada hari minggu atau pada hari libur sekolah.
Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk menunjang keberhasilan program kurikuler. Dalam kurikulum sasaran kompetensi yang di harapkan memiliki jangkauan kompetensi yang luas yang meliputi aspek intelektual, sikap emosional, dan keterampilan maka dalam kegiatan ekstrakurikuler tidak terbatas pada program untuk membantu ketercapaian program kurikuler, akan tetapi juga mencakup pemantapan pembentukan kepribadian secara utuh termasuk di dalamnya pengembangan bakat dan minat siswa. Oleh karena itu, perlu di rancang program ekstrakurikuler dengan baik agar dapat menunjang program kurikuler sekolah. Misalnya, agar kemampuan siswa dalam mata pelajaran Agama Islam semakin berkembang maka sekolah dapat membuat program ekstrakurikuler yang berbentuk Apresiasi baca Tulis Al-Qur’an yang salah satu tujuannya adalah agar siswa mampu mengapresiasikan dirinya untuk memperdalam pelajaran agamanya.

2.         Tujuan Ekstrakurikuler

Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan manusia untuk membina kepribadiaannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Kenyataannya, pengertian pendidikan ini selalu mengalami perkembangan meskipun secara esensial tidak jauh berbeda. Menurut Lengveld “pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan-perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju pada pendewasaan anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri”.[33]
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa untuk mencapai pendewasaan anak yang cukup dalam melaksanakan tugas hidupnya secara sendiri diperlukan adanya pendidikan. Pendidikan pada hakikatnya bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Mengenai pendidikan di sekolah, maka proses pendidikannya tertuang dalam satuan pendidikan yang lebih dikenal dengan sebutan kurikulum.
Pendidikan harus bertujuan membentuk seimbang dikalangan peserta didik melalui latihan rohani (spiritual), intelektual, emosional dan jasmani dengan menunjukkan peserta didik itu kepada berbagai pengalaman pada aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan.[34]
Beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh program ekstrakurikuler, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.         Memperluas, memperdalam pengetahuan dan kemampuan yang relevan dengan program kurikuler.
b.        Kegiatan ekstrakurikuler di harapkan dapat menambah wawasan pengetahuan siswa serta dapat mempertajam kompetensi/kemampuan siswa sesuai dengan materi yang di ajarkan dalam program kegiatan.
c.         Memberikan pemahaman terhadap hubungan antar mata pelajaran.
Dalam kegiatan kurikuler, siswa hampir tidak pernah diberikan kesempatan untuk menangkap esensi hubungan antar mata pelajaran. Kajian materi pelajaran sering di berikan secara terpisah-pisah. Padahal, seluruh materi pelajaran itu di arahkan untuk membentuk kemampuan dan kepribadian yang utuh. Kemampuan dan kepribadian yang utuh itu hanya mungkin diperoleh manakala siswa mampu menangkap hubungan antara berbagai pengetahuan dan pengalaman. Dalam rangka itulah kegiatan ekstrakurikuler di programkan.
a.       Menyalurkan minat dan bakat siswa.
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal tidak hanya berfungsi utuk memberikan pengetahuan dan kemampuan kepada siswa seperti yang di programkan dalam kegiatan kurikuler, akan tetapi juga berfungsi untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan minat dan bakat siswa, baik minat dan bakat yang secara langsung berhubungan dengan upaya membekali keterampilan hidup atau pengembangan minat dan bakat yang terbatas hanya sekedar hobi siswa. Semuan itu di perlukan untuk mencari keseimbangan pengembangan pribadi yang utuh.
b.      Mendekatkan pengetahuan yang diperoleh dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat/lingkungan.
Sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anggota masyarakat agar dapat hidup di masyarakat. Oleh sebab itu, pelajaran yang diberikan di sekolah harus relevan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Program kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan sebagai jembatan untuk mendekatkan dan mengaitkan antara program kurikuler dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat.
c.       Melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.
Pembinaan manusia seutuhnya tidak mungkin dapat dicapai oleh kegiatan kurikuler karena keterbatasan, misalnya waktu dan tempat. Oleh sebab itu, program ekstrakurikuler di arahkan untuk membantu mengembangkan manusia seutuhnya dalam arti:
1.    Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.    Berbudi pekerti.
3.    Memiliki pengetahuan dan keterampilan.
4.    Sehat jasmani dan rohani.
5.    Berkepribadian yang mantap dan mandiri.
6.    Memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.[35]
 Ekstrakurikuler merupakan wadah untuk mengembangkan minat dan bakat serta untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai bahan tambahan yang diperoleh anak didik dari proses belajar di dalam kelas, di samping itu juga kegiatan ekstrakurikuler berfungsi sebagai melatih anak didik untuk mengembangkan rasa tanggung jawab serta berdisiplin, terutama dalam bidang tenaga dan waktu. Agar tidak mensia-siakan waktu dan tenaga selagi masih muda. Sebagaimana terdapat dalam surah al-‘Ashr ayat 1-3 yang berbunyi:
 , خُسْرٍ لَفِى الْإِنسٰنَ إِنَّ , وَالْعَصْرِ
بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا الصّٰلِحٰتِ وَعَمِلُوا ءَامَنُوا الَّذِينَ إِلَّا
Artinya:
1.      Demi masa,
2.      Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3.      kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Kata al-‘ashr adalah waktu, Allah bersumpah dengan waktu. Menurut Syaikh Muhammad ‘Abduh karena telah menjadi kebiasaan orang-orang arab pada masa turunnya Al-Qur’an untuk berkumpul dan berbincang-bincang menyangkut berbagai hal dan tidak jarang dalam perbincangan mereka itu terlontar kata-kata yang mempersalahkan waktu atau masa, “waktu sial” demikian sering kali ucapan yang terdengar bila mereka gagal, atau “waktu baik” jika mereka berhasil. Tidak ada yang dinamai waktu sial atau waktu baik, semua waktu sama, yang berpengaruh ialah kebaikan dan keburukan usaha seseorang dan inilah yang berperan dalam baik atau buruknya kesudahan atau pekerjaan. Waktu selalu bersifat netral. Waktu adalah milik Tuhan, di dalamnya Tuhan melaksanakan segala perbuatan-Nya, seperti mencipta, memberi rezeki, memuliakan dan menghinakan. Dengan demikian waktu tidak boleh dikutuk,  tidak boleh juga di namai sial atau buruk. Janganlah sekali-kali kita mencerca waktu karena sesungguhnya waktu adalah milik Allah SWT.
Waktu adalah modal utama manusia, apabila tidak diisi dengan kegiatan yang positif, ia akan berlalu begitu saja. Ia akan hilang dan ketika itu jangankan keuntungan diperoleh, modal pun telah hilang.
Kata al-insan yang mengambil bentuk ma’rifat menunjuk kepada jenis-jenis manusia tanpa kecuali, baik mu’min maupun kafir. Manusia yang dimaksud ayat ini, walaupun bersifat umum, tidak mencakup mereka yang tidak mukallaf seperti yang belum dewasa atau gila.
Kata Khusr mempunyai banyak arti, antara lain rugi, sesat, celaka, lemah, dan sebagainya yang kesemuanya mengarah kepada makna-makna yang negatif atau tidak disenangi oleh siapapun. Kata la fi adalah gabungan dari huruf lam yang menyiratkan makna sumpah dan huruf fi yang mengandung makna wadah atau tempat. Dari kata tersebut, tergambar bahwa seluruh totalitas manusia berada di dalam satu wadah kerugian. Kerugian seakan-akan menjadi satu tempat atau wadah dan manusia berada serta diliputi oleh wadah tersebut. Jika demikian, waktu harus dimanfaatkan. Apabila tidak diisi maka kita akan merugi, bahkan kalaupun diisi dengan hal-hal yang negatif maka manusia pun diliputi oleh kerugian.
Ayat yang lalu menegaskan bahwa semua manusia diliputi oleh kerugian yang besar dan beraneka ragam. Ayat yang ketiga mengecualikan mereka yang melakukan empat kegiatan pokok yaitu: kecuali orang-orang yang beramal sholeh yakni yang bermanfaat, serta saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran dan ketabahan.
Kata ‘amal digunakan oleh Al-Qur’an untuk menggambarkan penggunaan daya manusia, daya fikir, fisik, kalbu dan gaya hidup yang dilakukan dengan sadar oleh manusia dan jin. Kata shalih terambil dari kata shaluha yang di dalam Al-Qur’an sering dijelaskan sebagai lawan kata dari fasid atau rusak. Dengan demikian kata shalih diartikan sebagai tiadanya kerusakan. Setiap amal sholeh harus memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah wujud amal, yang bisanya terlihat di alam nyata. Disisi orang lain dapat memberikan penilaian sesuai dengan kenyataan yang dilihatnya. Penilaian baik diberikaan manakala kenyataan yang dilihatnya itu menghasilkan manfaat dan menolak mudharat. Sisi kedua adalah motif pekerjaan itu. Mengenai sisi ini hanya Allah SWT yang dapat menilainya.[36]
Telah dinyatakan dalam hadis yaitu:
اﻏﺘﻨﻢ ﺨﺴﺳﺍ ﻗﺒﻞ ﺨﻤﺲ:ﺤﻴاﺗﻚ ﻗﺒﻞ ﻤﻮﺗﻚ ﻮﺴﺤاﻚ ﻗﺒﻞ ﻭﻔﺮﻏﻚ ﻗﺒﻞ ﺴﻌﻟﻚ ﻭ ﺴﺒاﺒﻚ ﻗﺒﻞﻫﺮﻤﻙ ﻭﻏﻧﻚ ﻗﺒﻞ ﻔﻘﺮﻙ
Artinya:
Pergunakannlah lima macam (waktu), sebelum datang yang lima lagi, pergunakanlah hidupmu sebelum datang matimu, sehatmu sebelum datang sakitmu, waktu senggangmu sebelun datang kesibukkanmu, mudamu sebelum datang masa tuamu dan kayamu sebelum datang miskinmu. (H.R. Baihaki dari Ibn Abbas).[37]

3.         Jenis-jenis Kegiatan Ekstrakurikuler

Berbagai pengembangan dalm program kegiatan ekstrakurikulewr kita perlu memperhatikan pola hubyungan antara kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler yang di harapkan, serta tujuan yang dicapai. Di bawah ini diberikan beberapa contoh kegiatan yang sesuai dengan bidang atau materi program ekstrakurikuler, yaitu:
1.        Kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2.        Pembinaan kehidupan berbangsa dan bernegara.
3.        Pembinaan kedisiplinan dan hidup teratut.
4.        Pembinaankemapuan berorganisasi dan kepwemimpinan.
5.        Pembinaan keterampilan, hidup mandiri dan kewiraswastaan.
6.        Pembinaan hidup sehat dan kesegaran jasmani.
7.        Pembinaan apresiasi dan karya seni.
8.        Membantu secara langsung program kurikuler.

D.    Kajian Penelitian Yang Relevan

Adapun penelitian relevan merupakan kajian mengenai penelitian-penelitian terdahulu. Berdasarkan pengalaman peneliti, ada beberapa judul penelitian yang berkaitan dengan judul yang diangkat oleh peneliti. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1.        Skripsi dari Rabi’atul Adawiyah Siregar Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara 2008, yang berjudul Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Siswa Kelas VIII di Madrasah Tsanawiyah Negeri Helvet. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran Al-Qur’an atau yang lebih dikenal dengan Teaching Qur’an yang dilaksanakan di MTs Negeri Helvet ini merupakan salah satu usaha dari tahun ke tahun yang dilakukan Madrasah untuk melatih dan mengembangkan kemampuan membaca Al-Qur’an Pada seluruh siswanya berdasarkan potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing anak. Upaya yang dilakukan Madrasah dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an Pada siswa kelas VIII di MTs Negeri Helvet melalui proses pembelajaran Al- Qur’an dilatarbelakangi oleh kemampuan siswa yang sangat minim dalam membaca Al-Qur’an. Faktor-faktor yang menyebabkan siswa kelas VIII belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar adalah minat dan motivasi yang rendah untuk belajar membaca Al-Qur’an, keluarga yang kurang memperhatikan perkembangan pendidikan anak dan lingkungan yang kurang mendukung. Hasil yang dicapai dalam pembelajaran Al-Qur’an di MTs Negeri Helvet ini dapat dikategorikan belum memuaskan karena belum dapat mencapai tujuan yang diinginkan dari Madrasah.[38]
2.        Skripsi dari Siti Fatonah Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara 2010, yang berjudul Pelaksanaan Pembelajaran PAI dalam Meningkatkan kemampuan baca Tulis Al-Qur’an melalui Metode Iqra pada siswa Kelas V di SD Negeri Marbau. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa kelas V di SD  Negeri Marbau dengan menggunakan metode Iqra ternyata membawa kemajuan dalam membantu siswa belajar baca tulis Al-Qur’an. Siswa yang sebelumnya susah atau belum bisa membaca dan menulis Al-Qur’an sedikit demi sedikit sudah mengalami kemajuan. Hal ini juga mungkin karena terbantu dengan pendidikan informal melalui TPA yang diikuti siswa ternyata juga turut membantu kelancaran siswa dalam membaca dan menulis Al-Qur’an. Metode iqra yang digunakan dalam pembelajaran baca tulis Al-Qur’an cukup membantu dalam meningkatkan baca tulis Al-Qur’an di SD Negeri Marbau, karena metode ini juga diajarkan kepada siswa pada saat mengikuti TPA sehingga ada sinkronisasi dalam pembelajaran baca tulis Al-Qur’an karena menggunakan Metode yang sama yaitu metode iqra.[39]
Dengan memperhatikan beberapa penelitian yang relavan diatas maka penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti dengan judul Peranan Guru Al-Qur’an dalam Melaksanakan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa di MTS............. Medan ............, maka penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya.










BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan khusus untuk meneliti bagaimana peranan guru Al-Qur’an dalam melaksanakan kemampuan baca tulis Al-Qur’an siswa di luar jam pelajaran di MTS............. Medan .............

B.     Jenis Penelitian

Penelitian ini masuk dalam kategori deskriptif kualitatif, adapun yang dimaksud deskriptif kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang telah diamati.
“Pendekatan deskriptif ini dalam pelaksanaan penelitiannya memang terjadi secara alamiah, apa adanya, dalam situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya, menekankan pada deskripsi secara alamiah”.[40] Dan data-data yang dikumpulkan berasal dari observasi, interview dan dokumentasi, serta untuk memperluas data dengan menyebarkan angket. Sehingga tujuan dalam penelitian ini adalah menggambarkan realitas.


C.    Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MTS............. Medan ............ yang beralamatkan di Jl. Sei Mencirim, No. 35, Desa Medan ............, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Sekolah ini terletak di pinggir jalan besar yang berdekatan dengan penduduk.

1.         Keadaan Fasilitas

Sarana dan fasilitas merupakan syarat mutlak bagi kelangsungan proses belajar mengajar yang baik, tanpa adanya sarana dan prasarana yang memadai maka apa yang diinginkan dari suatu proses belajar sulit untuk dapat dicapai.
Sarana pendidikan merupakan segala macam peralatan, kelengkapan dan benda-benda yang digunakan guru dan peserta didik untuk memudahkan penyelenggaraan pendidikan.
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang fasilitas di MTS............. Medan ............ dapat dilihat pada tabel berikut ini:
TABEL 1
KEADAAN SARANA DAN PRASARANA T.A 2016
MTS............. MEDAN ............

  NO
SARANA DAN PRASARANA
JUMLAH
1
RUANG KELAS
15
2
RUANG GURU
1
3
RUANG KEPALA SEKOLAH
1
4
LAB. KOMPUTER
1
5
TOILET GURU
1
6
TOILET SISWA
2
7
UKS
1
8
PERPUSTAKAAN
1
9
LAPANGAN BERMAIN
1
10
KANTIN
1
11
MUSHOLA
1
Sumber: Observasi Lapangan di MTS............. Medan ............

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwasannya sarana prasarana MTS............. Medan ............ sudah mencukupi dan sudah dapat memenuhi kebutuhan siswa. Tahun ajaran 2016 ini terlihat banyak perubahan dari tahun-tahun sebelumnya seperti ekstrakurikuler disekolah ini mulai berjalan, diperhatikan dan diterapkan dengan baik seperti belajar khot, membaca Al-Qur’an, Paskibra dan lain sebagainya.

2.         Keadaan Siswa

Siswa adalah objek dari pendidikan, maka apapun yang dilaksanakan dalam pendidikan tujuannya harus melibatkan objek dari pendidikan itu sendiri, karena keberadaan siswa dan latar belakang siswa yang menentukan keberhasilan tujuan pendidikan. Untuk meningkatkan aktivitas proses mengajar di sekolah, maka keberadaan siswa perlu diketahui secara cermat untuk menentukan kebijaksanaan dari suatu kegiatan yang dilakukan. Dari observasi awal, peneliti menyajikan keadaan siswa lima tahun terakhir di MTS............. Medan ............ yang disajikan dalam tabel di bawah ini:



TABEL 2
KEADAAN SISWA MTS............. MEDAN ............
TAHUN TERAKHIR

TAHUN
KLS VII
KLS VIII
KLS IX
JUMLAH
Lk
Pr
Lk
Pr
Lk
Pr
Lk
Pr
2011/2012
40
40
40
52
43
56
123
148
2012/2013
50
56
40
40
40
52
130
148
2013/2014
60
68
55
56
40
42
155
166
2014/2015
89
111
60
68
55
56
204
235
2015/2016
95
105
85
130
60
70
240
305
Sumber. Bagian Tata Usaha MTS............. Mewdan ............

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat keadaan siswa MTS............. Medan ............ pada tahun 2011/2012 berdasarkan jumlah siswa laki-laki secara keseluruhan sebanyak 123 siswa. Sedangkan jumlah siswa perempuan secara keseluruhan 148 siswa.
Pada tahun 2012/2013 berdasarkan jumlah siswa laki-laki secara kesluruhan meningkat yaitu yaitu 130 siswa. Sedangkan jumlah siswa perempuan secara keseluruhan meningkat sebanyak 148 siswa.
Pada tahun 2013/2014 berdasarkan jumlah siswa laki-laki secara kesluruhan meningkat yaitu yaitu 155 siswa. Sedangkan jumlah siswa perempuan secara keseluruhan meningkat sebanyak 166 siswa.
Pada tahun 2014/2015 berdasarkan jumlah siswa laki-laki secara kesluruhan meningkat dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu yaitu 204 siswa. Sedangkan jumlah siswa perempuan secara keseluruhan meningkat sebanyak 235 siswa.
Pada tahun 2015/2016 berdasarkan jumlah siswa laki-laki secara kesluruhan meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu 240 siswa. Sedangkan jumlah siswa perempuan secara keseluruhan meningkat sebanyak 305 siswa.
Dari keseluruhan data di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa MTS............. Medan ............, dari tahun ketahun siswa laki-laki meningkat dan siswa perempuan mengalami penurunan.

3.         Keadaan Guru

Faktor yang paling mendukung bagi siswa berhasil tidaknya perkembangan dan kemajuan suatu sekolah ditentukan oleh guru yang mengajar. Keadaan guru disuatu sekolah mutlak dibutuhkan. Tanpa guru, proses belajar mengajar tidak mungkin dapat dijalankan. Didukungan dengan kemampuan memotivasi anak didiknya untuk terus belajar dan menanamkan moral yang baik dalam diri siswa serta didukung fasilitas mengajar.
Berdasarkan data keadaan guru yang diperoleh, sebahagian besar guru mengajar sesuai dengan jurusan dan kemampuan yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tingginya mutu dan kualitas lembaga pendidikan karena telah memenuhi standar keprofesionalitasan tenaga pendidiknya.
Akan tetapi jika guru mengajar tidak sesuai dengan jurusan yang dimilikinya, maka akan mempersulit proses pembelajaran dan sulit mencapai tujuan pembelajaran. Karena ciri-ciri guru profesional ialah mengajar sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.

D.    Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner/wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data tersebut responden, yaitu orang-orang yang merespon atau menjawab pertanyaan peneliti, baik pertanyaan tertulis atau lisan dan apabila peneliti menggunakan teknik observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda gerak atau proses sesuatu, serta apabila peneliti menggunakan dokumentasi, maka dokumentasi atau catatanlah yang menjadi sumber data. “Sedangkan isi catatan sebagai subjek penelitian atau variabel penelitian”.[41]
Dalam penelitian kualitatif data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar. Selain itu semua data yang dikumpulkan kemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. “Data tersebut berasal dari naskah wawancara atau interview, foto, dokumen pribadi, catatan atau memo dan dokumen resmi lainnya”.[42]
Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Lexi J. Moleong, bahwa prosedur pertama ialah mengetahui sesuatu tentang apa yang belum diketahui, tahap ini dikenal dengan tahap orientasi yang bertujuan untuk memperoleh gambaran yang tepat tentang latar penelitian. Tahap kedua adalah tahap eksplorasi fokus, pada tahap ini mulai memasuki proses pengumpulan data, yaitu cara-cara yang digunakan dalam pengumpulan data. Dan tahap ketiga adalah rencana tentang teknik yang digunakan untuk melakukan pengecekkan dan pemeriksaan keabsahan data.
Ketiga tahap penelitian di atas akan diikuti dan dilakukan oleh peneliti, Pertama adalah orientasi yaitu mengunjungi dan bertatap muka dengan kepala sekolah. Pada tahap ini (orientasi) kegiatan yang dilakukan oleh peneliti adalah:
a.      Mohon izin kepada Kepala Madrasah untuk penelitian.
b.     Merancang usulan penelitian.
c.      Menyiapkan kelengkapan penelitian.
d.     Mengkonsultasikan rencana penelitian.
Kedua adalah eksplorasi fokus yaitu setelah mengadakan orientasi di atas, kegiatan yang dilakukan penelitian adalah pengumpulan data dengan cara:
a.      Wawancara/Interview dengan subjek yang telah dipilih yaitu: Kepala Madrasah, Guru Al-Qur’an dan Siswa.
b.     Studi dokumen, memperoleh dokumen berupa data yang berkaitan dengan penelitian melalui pihak yang telah dipilih.
Ketiga adalah tahap pengecekkan dan pemeriksaan keabsahan data. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan peneliti adalah mengadakan pengecekkan data pada subjek atau dokumen untuk membuktikan validitas data yang diperoleh.

E.     Prosedur Pengumpulan dan Perekaman Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat di mengerti maknanya secara baik, apabila dilakukan interaksi dengan subjek melalui wawancara mendalam dan observasi pada latar, di mana fenomena tersebut berlangsung dan di samping itu untuk melengkapi data diperlukan dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subjek). Dalam pengumpulan data skripsi ini, penulis menggunakan teknik atau metode sebagai berikut:

1.         Observasi

“Metode observasi adalah kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan alat indera. Jadi observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap”.[43] Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan geografis, keadaan melalui pengamatan.
Pengamatan yang dilakukan meliputi kondisi ruangan kelas dan ruangan sekitar sekolah dan sarana dan prasarana MTS............. Medan .............
Teknik observasi dalam penelitian kualitatif observasi diklarifikasikan menurut tiga cara. Pertama, pengamat dapat bertindak sebagai partisipan atau non partisipan. Kedua, observasi dapat dilakukan secara terus terang atau penyamaran. Ketiga, observasi yang menyangkut latar penelitian dan dalam penelitian ini digunakan teknik observasi yang pertama di mana pengamat bertindak sebagai partisipan.

2.         Wawancara/Interview

“Wawancara adalah sebuah percakapan antara dua orang atau lebih di mana pertanyaan diajukan oleh seorang yang berperan sebagai pewawancara”.[44] Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode wawancara dalam bentuk interview bebas terpimpin. Menurut Suharsimi Arikunto, “Interview bebas terpimpin yaitu melaksanakan interview pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan dan untuk selanjutnya pertanyaan-pertanyaan tersebut diperdalam”.[45]
Dalam wawancara ini hanya menjadi objek dalam wawancara adalah Kepala Madrasah, Guru Al-Qur’an dan Siswa.

3.         Dokumentasi

Teknik Dokumentasi, digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman. Rekaman sebagai setiap tulisan atau pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individual atau organisasi dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa atau memenuhi accounting. Sedangkan, dokumen digunakan untuk mengacu atau bukan selain rekaman, yaitu tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu, seperti: surat-surat, buku harian, catatan khusus, foto-foto dan sebagainya. Metode ini digunakan untuk memperoleh sejarah berdirinya, keadaan guru dan struktur siswa di sekolah.

F.     Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data

Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi. Menurut Moleong triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.[46]
Berpedoman kepada pendapat Lincoln dan Guba untuk mencapai trustworthinnes (kebenaran), dipergunakan teknik kredebilitas, transferebilitas, dan konfirmibilitas, yang terkait dengan proses-proses pengumpulan dan analisis data.[47]
1.      Kredibilitas (keterpercayaan)
Adapun usaha untuk membuat lebih terpercaya proses, interpretasi dan temuan dalam penelitian ini yaitu dengan cara:
a.       Keterkaitan yang lama peneliti dengan yang diteliti. Dilaksanakan tidak tergesa-gesa sehingga pengumpulan data dan informasi akan diperoleh secara sempurna.
b.      Ketekunan pengamatan dan kerja sama oleh para aktor-aktor dilokasi penelitian untuk memperoleh informasi yang terpercaya.
c.       Melakukan triangulasi yaitu informasi yang diperoleh dari beberapa sumber diperiksa silang dan antara data wawancara dengan data pengamatan dan dokumen. Demikian pula dilakukan pemeriksaan data dari berbagai informen.
d.      Mendiskusikan dengan teman sejawat yang tidak berperan serta dalam penelitian sehingga penelitian akan mendapat masukan dari orang lain.
e.       Kecukupan refrensi. Dalam konteks ini peneliti mengembangkan kritik dan tulisan untuk mengevaluasi tujuan yang dirumuskan.
f.       Analisis kasus negative, adapun analisis kasus negative identik dengan analisis varian dalam penelitian kualitatif, dengan kata lain analisis kasus negative yaitu menganalisis dan mencari kasus atau keadaan yang menyanggah temuan penelitian sehingga tidak ada lagi bukti yang menolak temuan peneliti.
2.      Transferabilitas
Transferabilitas memperhatikan kecocokan arti fungsi unsur-unsur yang terkandung dalam fenomena studi dan fenomena lain diluar ruang lingkup study. Cara yang ditempuh untuk menjamin keteralihan (transferability) ini adalah dengan melakukan uraian rinci dari data ke teori atau dari kasus kekasus yang lain. Sehingga pembaca dapat menerapkannya dalam konteks yang hampir sama.
3.      Dependabilitas
Dalam penelitian ini dependabilitas dibangun sejak dari pengumpulan data dan analisis data lapangan serta saat penyajian data laporan penelitian.
4.      Konfirmabilitas
Keabsahan data dan laporan penelitian ini dibandingkan dengan menggunakan teknik yaitu: mengkonsultasikan setiap langkah dalam kegiatan kepada promoter atau konsultan sejak dari pengembangan desain menyususn ulang fokus penentuan konteks dan nara sumber, penetapan teknik pengumpulan data dan analisis data serta penyajian data penelitian.

G.     Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, maka langkah berikutnya adalah pengelolahan dan analisa data. Yang dimaksud dengan analisa data adalah proses mencari dan menyususn secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyususn ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh dirinya sendiri atau orang lain.
Analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber seperti data observasi dan data wawancara yang terkumpul. Langkah selanjutnya yang akan ditempuh oleh peneliti setelah data terkumpul adalah dengan menganalisis data tersebut. Maka dengan analisis data tersebut akan diperoleh gambaran yang jelas tentang objek sebagai hasil penelitian dan apa yang diambil oleh peneliti sebagai bahan ajar kajian dalam penulisan skripsi ini. Data yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini akan disajikan secara deskriptif kualitatif, adapun yang dimaksud deskriptif kualitatif menurut Bagon dan Tailor adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang telah diamati.
Analisis data dalam kasus ini menggunakan analisis data kualitatif, maka dalam analisis data selama dilapangan peneliti menggunakan model speadlty, yaitu tehnik analisis data yang di sesuaikan dengan tahapan dalam penelitian, yaitu:
1.      Pada tahap penjelajahan dengan tehnik pengumpulan data yaitu pertama dengan memilih situasi sosial.
2.      Kemudian setelah memasuki lapangan, dimulai dengan menetapkan seseorang informan yang merupakan informan yang dipercaya mampu melayani peneliti untuk memperoleh hasil penelitiannya. Setelah itu peneliti melakukan wawancara kepada informan tersebut, dan mencatat hasil wawancara. Setelah itu perhatian peneliti pada objek penelitian dan memulai mengajarkan pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analissi terhadap hasil wawancara.
3.      Pada tahap menentukan fokus (dilakukan dengan observasi terfokus) analisis data dilakukan dengan analisis taksonomi.
4.      Pada tahap selection (dilakukan dengan observasi terseleksi) selanjutnya penelitian mengajukan pertanyaan kontras, yang dilakukan dengan analisis kompensional.
5.      Hasil dari analisis kompensional, melalui analisis tema peneliti menemukan tema-tema budaya. Berdasarkan temuan tersebut, selanjutnya peneliti menuliskan laporan penelitian kualitatif.

 

 



















DAFTAR PUSTAKA


 Arikunto, Suharsimi Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi revisi VI, Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Arief, Armai M.A., Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta : Ciputat Press, 2002
Basrudin, Usman M, Methodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta : PT Ciputat Press, 200

Depag RI, Al-Qur'an dan terjemahannya, Surabaya: CV. Ramsa Putra, 2002.

Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014.

Moleong, lexy j. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remja Rosdakarya, 1996.

Rosdiana A. Bakar, Pendidikan Suatu Pengantar, Bandung: Ciptapustaka Media Perintis, 2009.

Zulkifli, L. Psikologi Perkembangan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2003


 



[1] Depag RI, Al-Qur'an dan terjemahannya (Surabaya: CV. Ramsa Putra, 2002), hlm. 603.
[2] Hamdani Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), hlm. 24.
[3] Pius A Partanto dan M. Dahlan Al – Barry, kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola, 1994), hlm. 770.
[4] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 39.
[5] Zulkifli, L. Psikologi Perkembangan (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 53.
[6] TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Depag RI, 1984/1985), hlm. 891.
[7] W.J.S. Poerwadarminto, Kamus Umum bahasa Indonesia, (Jakarta: Pustaka Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Departemen P dan K, 1999), hlm. 735.
[8] Ananda Santoso dan S. Priyamto, kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Surabaya: Kartika, 1995), hlm. 667.
[9] Rosdiana A. Bakar, Pendidikan Suatu Pengantar, (Bandung: Ciptapustaka Media Perintis, 2009), hlm. 111.
[10] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2014), hlm. 103.
[11] Buchori. M, Pendidikan Antisipatoris (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm. 123.
[12] Abdul Majid, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 130.
[13] Ibid, hlm 132.
[14] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat, hlm. 106.
[15] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 83.
[16] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara), hlm. 74
[17] Sardiman, Implementasi Guru dalam Pembelajaran (Bandung: Rosdakarya, 2007), hlm, 143.
[18] W.J.S Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hlm. 62.
[19] Robbins, dkk, Perilaku Organisasi 1 (Jakarta: Salemba Empat, 2008), hlm. 56.
[20] Ibid, hlm. 57.
[21] Kamus Al-Munawwir Versi Indonesia-Arab (Surabaya: Pustaka Progressif, 2007), hlm. 75.
[22] Moh. Wahyudi, Ilmu Tajwid Plus (Surabaya: Halim Jaya, 2007), hlm.  9.
[23] Qomari Sholeh, Ilmu Tajwid Penuntut Baca Al-Qur’an Fasih dan Benar (Jogoroto: Kembang, 2006), hlm. 9.
[24] Otong Surasman, Metode Insani Kunci Praktis Membaca Al-Qur’an Baik dan Benar (?Jakarta: Gema Insani, 2002), hlm. 20.
[25] Muhammad Fand Ass-Tsuwaini, 10 Metode Agar Anak Mencintai Al-Qur’an terj. Dwi Rainasari (Yogyakarta: Al-Ajda Press, 2009), hlm. 18.
[26] Nona A. Hanijaya dan Nunung K. Rukmana. Cara Mudah Bergembira Bersama Al-Qur’an, hlm. 24.
[27] Suparno dan Mohammad Yunus. Keterampilan Dasar Menulis (Jakarta: Universitas Terbuka, 2008), hlm. 13.
[28] Tarigan, H G. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Bandung: Angkasa, 2008), hlm. 22.
[29] Herwono. Mengikat Makna (Jakarta: kaifa, 2002), hlm. 116.
[30] Hendra dan Slamet. Dasar-Dasar Keterampilan Berbahasa (Jakarta: Universitas Sebelas Maret), hlm. 142.
[31] Gin Tie Liang. Pengantar Dunia karang Mengarang (Yogyakarta: Liberty, 1992), hlm. 37.
[32] Asep Herry Hermawan, dkk, Pengembangan Kurikulum dan pembelajaran (Jakarta: Universitas Terbukit, 2010), hlm. 124. 
[33] Hasbullah. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hlm 2.
[34] Mukhtar & Iskandar. Orientasi Baru supervisi Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada, 2009), hlm. 24.
[35] Asep Herry Hermawan. Dkk, Pengembangan Kurikulum dan pembelajaran (Jakarta: universitas Terbuka, 2010), hlm.124.
[36] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan; Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 584.
[37] Imam Abu Zakaria bin Syaraf , Terjemahan Riyadhus-Shalihin 1 (Bandung: PT. Al-Mu’arif, 1997), hlm. 23.
[38] Rabi’atul Adawiyah Siregar, “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Qur’an Siswa Kelas VIII di Madrasah Tsanawiyah Negeri Helvet” (Medan: Skripsi, S1 Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara, 2008)
[39] Siti Fatonah, “Pelaksanaan Pembelajaran PAI dalam Meningkatkan kemampuan baca Tulis Al Qur’an melalui Metode Iqra pada siswa Kelas V di SD Negeri Marbau” (Medan: Skripsi, SI Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara, 2010)
[40] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Yogyakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), hlm. 11.
[41] Ibid, hlm. 155.
[42] Lexy Moleong J. MetodologiPenelitianKualitatif (edisi revisi) (Bandung: PT Remaja Rosdakarya: 2004), hlm. 11.
[43] Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hlm. 133.
[44] Salim dan Syahrum, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Ciptapustaka Media, 2011), hlm. 120.
[45] Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hlm. 132.
[46] Lexy. J Moeleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2014), hlm. 324.
[47] Salim dan Syahrum, Op. Ci,  hlm. 165-169.